Feed on
Posts
Comments

Laporan Hari Ini

Bangun jam 6 pagi dan berharap bisa lari pagi di hutan kecil dekat rumah. Udah pake baju lengkap dan ketika sampe di depan pintu flat… hujan!!! Balik lagi dech merayap ke lantai 3 dan bersih-besih rumah. Punya firasat hujan bakalan turun lebih lama, sehingga memutuskan untuk duduk manis di depan kompie :) seperti biasa. Tapi kali ini agak berbeda setelah punya maenan baru yang namanya nge-plurk. Pagi-pagi udah nge-plurk bareng Bunda Nana, Mbak Yuli dan Arie di Bali hehhehe…sambil nge-check beberapa email yang masuk ke inbox.

Buka site-nya BBC dan baca tentang Rafa. Wuiiiihhh kemaren itu hampir jantungan nonton tenisnya Rafa, sumpah dech sampe kagak bisa duduk manis di depan tipi saking nervous-nya, aneh ya….kagak ada hubungan apa-apa sama Rafa bisa-bisanya gugup kayak gitu hehehheh. Tapi match kemaren itu emang breathtaking dech….kalo ga percaya check aja di site-nya wimbledon.org hehhehe….dibahas abizzzz hehheheh

Makan siang agak early karena mau pergi ke kursus mengemudi untuk dapet sim Swedia, makanya isi perut dulu sebelum bertempur dengan yang namanya soal-soal di kompie. Masih punya waktu sedikit akhirnya memutuskan untuk up date ini buku harianku. Senang rasanya bisa balik do what i love…writing! Yup….walopun agak susah komit buat nulis tiap hari tapi setidaknya berusaha menulis jika punya waktu yang lumayan.

Niweiiii…mau siap-siap dulu nech. Will write again later….

Great friends are those people you trust with things of extra special value… your best earrings, your man, and your most guarded secrets and fears. ‘

Anonym’

Pertama kali aku mengenalnya lewat mp-nya mbak Dewi Ardon *Thanks mbak D*. Entah kenapa ada keinginan untuk berteman dengannya, mungkin karena dia orang Bali atau…entahlah, hanya ada sebuah keinginan untuk mengenalnya lebih jauh.

Namanya Dian ter Borg, seorang teman yang berada di negeri yang bernama Amsterdam. Dian-lah yang membuat blog pada tanggal 28 Oktober ‘06 untuk mengenalkan aku kepada teman-teman sesama Bali yang tersebar di berbagai benua. Dian…seorang saudara yang aku temukan di tahun 2006.

Pertama kali chatting dengannya pada tanggal 29 Oktober ‘06 di YM, serasa aku sudah mengenalnya bertahun-tahun. Nyaman sekali bertutur tentang banyak hal dan sepertinya aku menemukan seorang teman yang lain dari temanku yang lain.

Tanggal 4 Maret ‘07…aku terbang ke Amsterdam hanya untuk bertemu Dian. Tidak ada keinginan lain…hanya ingin membuktikan apa yang aku rasakan, sebuah kegembiraan yang juga bercampur dengan kekawatiran, apakah Dian yang selama ini hilang…sesuatu yang aku belum pernah temukan? Melihat wajahnya di ambang pintu rumah mungilnya, sudah membuat aku nyaman dan yakin…dia yang sebenarnya, dia yang tersenyum di hadapanku dan hubby…dia yang pertama memberiku uluran tangan sebagai teman sejati. Hari-hari selanjutnya semakin membuktikan bahwa waktu tidak bisa dijadikan sebuah ukuran untuk kesejatian. Kami hanya bertemu beberapa jam waktu itu namun sepertinya kami sudah saling mengenal beberapa tahun kebelakang. Sebuah keanehan yang mendatangkan kebahagiaan.

Pertemuan demi pertemuan semakin mengukuhkan bahwa kami mempunyai banyak kesamaan, yang terkadang membuat diri kami sendiri heran dan bagaimana bisa…kami bersyukur karena kesamaan itu semakin merekatkan kami dalam tali persaudaraan. Selalu saja ada kata kangen kalau lama tidak saling bertukar kata. Dimana ada percakapan dengannya selalu dihiasi tawa, saling mencela tanpa diikuti sedih ataupun perasaan terhina. Kami saling berbagi segalanya…masa lalu, masa sekarang dan berharap masa depan. Kami bisa begitu saja mengambil topik dari sebuah pembicaraan tanpa harus memikirkannya terlebih dahulu, seolah-olah yang namanya bahan pembicaraan itu tidak pernah akan habis untuk kami. Nyaman… seakan bertemu dengan seorang saudara yang lama menghilang, nyaman… seakan hidup ini semakin berwarna setelah mengenal Dian. Bahkan saking nyamannya… aku sering merasa bahwa mungkin di kehidupan kami terdahulu, aku dan Dian adalah saudara kembar. Aku sering menggoda Dian tentang hal ini dan seperti biasa… godaan yang selalu menghasilkan tawa canda. Kadang, jika aku dalam keadaan sedih atau kesal atau kecewa… aku bisa tertawa lagi setelah bercakap-cakap dengan seorang Dian. Aneh…aku belum pernah menemukan seorang teman seperti dia, padaNYA aku mengucap syukur telah memberi aku kesempatan mengenal seorang teman, saudara seperti Dian.

Satu lagi kesamaan yang kadang membuat aku tersenyum adalah… Michiel *hubby tercinta Dian* dan Patrik *hubbyku tersayang* berulang tahun pada tanggal yang sama yakni 12 September. Apakah ini suatu kebetulan atau kesengajaan? Apapun itu, kebetulan atau kesengajaan… hal ini semakin mengeratkan jalinan ini, semoga untuk selamanya…

Hanya satu kata yang bisa menggambarkan perkawanan kami… *TAWA = LAUGH*!

Untuk seorang Dian…

“Terima kasih… telah menjadi bagian dari perjalanan hidup seorang Deni. Terima kasih sudah menerimaku apa adanya, sudah berbagi denganku. I just want you to know… with you, i feel comfortable just being myself! Thank you… hope this friendship will last forever!”

lots of hugs DM

Udah lama rasanya tidak mengunjungi buku harian online-ku. Banyak kesibukan yang menyita waktu seolah-olah yang namanya waktu itu cepat sekali berjalan dari pagi, siang malam dan pagi lagi….ingin rasanya tidak tidur untuk menuntaskan tugas yang belum selesai, namun pikiran yang mengingatkan bahwa esok pun perlu tenaga untuk melanjutkan tugas, jadilah…tidur tetap tugas utama yang harus dijalankan di setiap malamnya.

Pagi ini, kebetulan aku dan hubby tercinta hanya santai di rumah, maka dudklah dengan manis di depan komputer yang baru kali ini digunakan untuk hal.hal yang santai bukan lagi kamus online dan teman-temannya hehheheh. Begitu buka YM langsung aja memburu dan menyapa teman.teman yang lama tidak diajak bersenda gurau. Sempat bercakap-cakap dengan Dian, ’saudara kembar’ di Amsterdam hehehheh yang akhirnya menghilang karena harus mempersiapkan sate yang akan dipake untuk bbq di Den Haag siang ini. Terus ketemu Bunda Nana, yang kali ini berbagi ilmu nge-plurk yang ternyata langsung menarik aku untuk sign up dan ikutan nge-plurk hehheheh. Seruuu juga tuch….terus mengundang Mbak Yuliazmi juga *Mbak, jangan direject ya hehehehhe* terus undang juga teman yang di Bali yang namanya Arie, habis itu….ya lari sebentar untuk up date di buku harian online ini, selama masih punya waktu.

Bulan ini banyak banget goals yang mesti dicapai, yuppp…walopun sekolah bahasa Swedia sedang libur satu bulan tapi ternyata buat aku belum ada kata libur sampe yang namanya ujian nasional kelar dan dapet kerjaan. Emang kadang ini badan kayaknya cape banget tapi yang namanya semangat ga boleh pudar begitu saja. Masih banyak yang harus diperjuangkan sebelum tahun 2008 lewat begitu saja…

Yup….ada maenan baru tiap hari minggu sekarang hehehhe….atau setiap ada waktu buka kompie yaitu…nge-plurk! Thanks buat Bunda Nana yang udah ngenalin aku dengan maenan online satu ini hehehheh

Have a great Sunday every one!!!!

“Di, aku bingung”.

“Kenapa?”

“Sepertinya aku sangat sulit diterima oleh orang lain. Sampe saat ini aku belum juga menemukan seorang teman yang benar-benar teman. Mereka selalu menjauh jika mereka tahu siapa aku. Hari ini aku alami lagi. Sedih…tapi aku tahu ini salah satu alur yang mesti aku jalani”.

“Apa maksudmu setelah mereka tahu siapa kamu yang sebenarnya?”

“Begini ceritanya, tadi pagi teman-teman di tempat kerja mengajakku untuk pergi ke disko. Aku coba menjelaskan kalau aku mungkin akan sedikit merepotkan karena ini pertama kali aku pergi ke tempat seperti itu. Tapi mereka bilang aku akan baik-baik saja dan mereka fine with my explanation. Terus begitu keluar dari locker…mereka sepertinya aneh melihat bajuku yang tidak secantik mereka. Dan mereka agak sedikit protes melihat mukaku yang tanpa make up. Aku memang selalu menghapus make up setelah selesai bekerja. Hanya tidak nyaman saja memakai make up. Aku hanya menurut saja ketika mereka mendandani aku walaupun dalam hati rasanya ingin menolak!”

“Terus, apa yang terjadi?”

“Kami pergi dan begitu tiba di sana, mulailah apa yang aku takutkan terjadi. Mereka memesan minuman beralkohol dan kamu tahu kalau aku tidak minum sama sekali. Aku hanya memesan soft drink dan dari sini mereka sepertinya mulai merasa aneh. Mungkin dalam pikir mereka, gadis umur 23 tidak minum alkohol sama sekali? Mereka pergi ke lantai dansa dan hanya berbasa basi mengajakku, daaann lagi-lagi aku tolak. Dari situ aku memutuskan untuk pulang…here i am, at home with you Di!”

“Terus, apa yang membuatmu sedih now? Tell me!”

“Di, apakah salah jika aku tidak memakai make up dalam keseharianku?”

“Tidak, tidak ada yang salah. Kalau memakai make up di rumah membuatmu tidak nyaman, mengapa harus memakainya. Kamu tidak harus menyenangkan orang lain dengan membuat dirimu sendiri tidak nyaman”.

“Di, apakah salah jika sampai umurku 23 aku belum pernah meminum alkohol seperti mereka?”

“Apakah meminum alkohol adalah sebuah ukuran dalam pergaulan? Jawabannya tidak! Jika sampai saat ini kamu belum pernah meminum alkohol apakah itu berarti kamu kurang pergaulan? Jawabannya tetap tidak, dan kamu punya alasan tersendiri mengapa kamu tidak meminum alkohol sampai saat ini. Sesuatu itu terjadi pada waktu yang tepat, mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untukmu meminum alkohol. Kapan waktu yang tepat? Aku sendiri tidak tahu tapi jangan pernah merasa minder gara-gara kamu belon pernah mencoba alkohol. Jangan pernah paksa dirimu untuk melakukan hal yang belum mau kamu lakukan, karena sesuatu yang berawal dari paksaan tidak akan berakhir dengan baik, hanya kekecewaan yang ada”.

“Di, apakah aku harus merubah penampilanku agar lebih diterima di masyarakat?”

“Kalau menurutku, iya….kamu harus belajar sedikit bagaimana menghargai dirimu dengan memakai pakaian yang bisa membuat pori-porimu nyaman dan tersenyum. Bukan untuk menyenangkan orang lain, tapi untuk menunjukkan rasa cintamu pada diri sendiri. Tidakkah kamu tahu, kalau jiwamu juga ingin tampil cantik dan indah? Berilah sedikit hadiah pada jiwa dan ragamu yang sudah kamu gunakan untuk melayanimu, melakukan yang terbaik dari dirimu untuk keluarga dan orang-orang di sekitarmu”.

“Tapi baju-baju itu mahal Di! Lebih baik uangnya aku gunakan untuk membantu ibu dan ajik”.

“Percayalah, mereka juga ingin kamu menyenangkan diri sendiri. Memberikan dirimu sebuah kesenangan bukan berarti kamu anak durhaka. Ajik dan ibumu tahu kalau kamu tidak akan pernah mengecewakan mereka hanya dengan membeli beberapa baju yang akan bisa membuat jiwa dan seluruh ruang di dalam tubuhmu tersenyum. Kamu masih satu dari anak-anak tersayang mereka. Tuhan memberimu rejeki lebih dan Tuhan tidak akan marah jika kamu gunakan sepuluh persennya untuk dirimu sendiri”.

“Di, apakah salah jika aku berbeda? Aku hanya merasa diskotek adalah bukan tempat yang membuatku nyaman. Kamu lebih tahu tentang aku Di, aku gadis desa. Tempatku bukan di sana tapi di rumah…aku rasa”.

“Manusia tidak ada yang sama. Bahkan orang kembarpun tidak sama. Apakah ada yang menyalahkan mereka karena berbeda? Tidak! Tidak ada seorangpun yang berhak menyalahkan kamu kalau kamu berbeda, karena Tuhan menciptakan manusia dalam perbedaan. Perbedaan itulah yang menyebabkan tiap manusia itu unik, dan keunikan itu membuat manusia menjadi seseorang yang special. Perbedaan pula yang mempertemukan manusia sebagai orang tua, saudara, teman, pacar dan masyarakat. Dengan perbedaan itu kamu bisa saling belajar, saling mengisi satu sama lain dan menjadikan hidup ini lebih  indah. Hidup adalah sebuah tempat untuk belajar, jika Tuhan menciptakan semua manusia sama, maka manusia tidak akan pernah belajar. Cintailah dirimu karena kamu berbeda, karen berbeda itu unik dan unik itu indah”.

“Terima kasih Di, aku lebih mengerti tentang hidup sekarang. Aku sayang kamu Di, seperti aku sayang pada diriku sendiri. Aku tahu keluargaku akan selalu bangga karena aku berbeda. Terima kasih, Di!”

Singapore, satu hari di bulan Oktober 2000. Sebuah percakapanku dengan gadis kecil dalam diri yang aku panggil dengan nama Dionysus. Sebuah nama Yunani yang menjadi cikal bakal nama Denise…nama baptis yang dipilih hubby-ku tersayang buatku, dan namaku adalah…Deni!

Satu lagi kepingan kecil hidup seorang prajurit kecil.

Cerita Di Kala Pagi

Berjalan di bawah sinar matahari dan menyapa alam di pagi hari ini terasa nikmat sekali. Menghirup udara dan merasakannya menjalari setiap nadi di dalam tubuh membuat senyumpun terbentuk dan syukur terucap,

“Tuhan, terima kasih…sudah memberikan aku satu hari lagi untuk mengagumi betapa megah alam ciptaanMU dan betapa banyak pelajaran yang aku dapatkan dalam hidup. Terima kasih telah mengijinkan bibir ini mengucap syukur bersama mentari”.

Ada banyak tujuan yang bisa aku jadikan pilihan, namun kaki mengajak aku kembali ke hutan kecil dekat rumah yang aku tinggalkan beberapa bulan yang lalu. Melihat betapa hijau dan lebatnya hutan kecil ini sekali lagi bibir tersenyum pelan dan dengan lirih aku katakan pada hutan kecil temanku, ketika langkah kaki pertama kali terpijak di pinggir pohon pertama,

“Aku kembali…kembali untuk menyapamu dan sekedar menghabiskan waktu untuk lebih mensyukuri apa yang aku punya. Aku harap kamu dan segala yang ada padamu menjaga aku dan membantuku memberi warna dalam hariku hingga nantinya bisa aku rangkai jadi cerita indah”.

Kali ini aku ambil arah yang berlawanan dengan arah yang biasanya aku tapaki. Ada sesuatu yang berbeda namun aku yakin akan berakhir di tempat yang akan aku kenali. Aku biarkan pikirku melayang kemanapun dia mau, aku tak akan membatasi dan menyuruhnya untuk berhenti. Gadis kecil dalam diripun bersiap-siap untuk terbang dan sebelum dia kepakkan sayapnya…dia tersenyum….satu senyum indah mengawali pagiku. Kuberikan senyum terbaikku padanya seperti pada Tuhanku.

Kaki perlahan terhenti ketika kulihat memori masa lalu berlarian di benakku, tapi aku sudah berjanji tidak akan menyuruhnya berhenti…karena aku tahu ini yang gadis kecil mau untuk menemani hariku bersama alam. Sempat terpikir mengapa tiba-tiba masa lalu yang dipilih gadis kecil buatku, apakah karena aku tonton Andrea Hirata dan cerita laskar pelanginya? Mungkin saja….dimulai dengan ingatan tentang kemarin….

Aku pernah dengar dari seorang teman tentang buku berjudul Laskar Pelangi, tapi belum tergerak untuk mencari tahu sampai Mbok sari, salah satu kakak di Jerman memasang satu buah cuplikan percakapan sang penulis buku. Sebelumnya mbok Sari mengingatkan untuk mempersiapkan tissue sebelum menonton kisah Andrea Hirata selengkapnya dari bagian 1 sampe ke 6 yang aku putuskan untuk aku tonton di you tube. Penasaran tapi malas mengambil tissue yang ada di kamar mandi….

“Kan ada baju yang bisa dipake” kataku dengan bandel dalam hati.

Episode pertama,…kedua…ketiga…keempat…mulai aku rasakan keharuan penonton yang disorot lampu kamera, dan ada beberapa bahkan mulai berkaca-kaca. Memasuki bagian ke 5 mulailah terlihat beberapa penonton mengusap air mata terharu ketika mendengarkan dan melihat di mata seorang Andrea Hirata juga terlihat aliran sungai kecil.

“Mungkin ini yang dimaksud mbok Sari dengan tissue yang harus disiapkan” kataku perlahan. Namun mata ini kering, hanya satu kalimat terluncur begitu saja mewakili semua yang aku rasakan ketika menonton show ini…

“I have been there” yes…. “I have been there”

Tidak dalam kontent yang sama, tidak pula dalam situasi yang sama. Namun perjuanganku untuk dapat mengecap dunia pendidikan hampir sama…hanya jaman yang membedakan kami. Bukan berarti aku ingin menyamakan diriku dengan seorang penulis handal, tidak….tidak ada niat untuk itu. Hanya dengan melihat dan mendengar saja sudah membuat aku melihat kembali masa-masa sulit masa kecilku, betapa pendidikan bagi kami, anak-anak dari keluarga yang tidak mampu amat sangat berarti. Apapun kami lakukan hanya untuk dapat duduk di salah satu bangku sekolah.

Gadis kecil membawaku melihat kembali….

Kakiku menari indah ketika ibu memasangkan sepatu merk Eagle di bulan Juli 1988. Aku masih ingat betapa hatiku sangat senang mendapat oleh-oleh sepatu baru atas budi baik kakek. Aku coba berjalan dengan sepatu baruku….

“Ibu, sepatu ini kebesaran”

“Tidak apa-apa, lebih baik kebesaran daripada kekecilan. Nanti kan kakimu bertambah besar, jadi sepatu itu bisa kamu gunakan lebih lama”

Ya….apa yang ibu bilang memang benar. Sepatu itu memang kebesaran…dulu aku hanya mengerti dan menerima dengan begitu saja bersama luapan kegembiraan penjelasan ibu yang singkat. Namun…menjelang masuk ke kelas 2 SMA…aku baru benar-benar menyadari mengapa ibu membelikan aku sepatu dengan ukuran lebih besar. Sepatu Eagle berwarna hitam benar-benar menjadi satu-satunya sepatu yang aku miliki sejak kelas 4 SD. Jika sepatu itu basah karena hujan, aku harus cepat-cepat menggantungnya agar bisa keesokan harinya aku pakai lagi. Jikapun belum kering, aku memakainya tanpa keluhan karena aku mengerti betapa ibu dan ajik berusaha keras menghidupi kami dan tidak adil rasanya hanya gara-gara sepatu basah kami harus menambah beban mereka.

Tuhan sangat baik pada kami…aku diberikan ketabahan berlebih hingga bisa berkosentrasi dan selalu menjadi yang terbaik di kelas dan mendapatkan bebas biaya sekolah setiap tahunnya dari kelas 1 SD hingga aku menamatkan SMA. Aku bersekolah dari TK sampai SMA di sekolah swasta yang dulunya bernama Lab UNUD Singaraja. Mengapa aku memilih sekolah swasta…karena mereka memberikan bebas uang sekolah ketika aku menginjak kelas 1 SD karena prestasiku di TK. Namun jika aku ingin tetap mendapatkan bebas biaya sekolah, aku harus selalu jadi yang terbaik karena hanya juara 1 di tiap kelas yang akan mendapatkan bebas uang sekolah selama setahun. Tuhan Maha Penyayang….tak pernah aku lewatkan satu tahunpun tanpa beasiswa. Entahlah….jika tanpa fasilitas itu, mungkin aku berakhir sebelum bisa menamatkan sekolah.

Aku berjualan permen coklat setiap hari di sekolah membantu tetangga yang meiliki toko di pasar, dengan tujuan untuk mendapat uang bekal. Jika aku berhasil menjual satu kotak yang berisi 20 permen coklat dengan harga Rp.25 per biji, aku mendapat imbalan Rp.50 rupiah yang biasanya aku tabung setengah dan setengahnya lagi biasanya aku belikan makanan kecil. Aku berjualan hingga menginjak kelas 6 SD. Memasuki SMP, untuk menambah uang bekal, aku mengirim puisi ke Bali post dan jika puisiku termuat aku mendapat imbalan lumayan. Ini berlanjut hingga aku menamatkan SMA di Singaraja.

Karena kesulitan uang juga…aku putus kuliah. Aku memutuskan bekerja sebagai pelayan restaurant di Lovina, hanya untuk mengumpulkan uang untuk melanjutkan pendidikan walaupun hanya D1 perhotelan di Singaraja. Ketika uang hasil kerja terkumpul dan bisa menamatkan D1 dengan nilai terbaik, niatku untuk melanjutkan sekolah D2 di bidang yang sama membawaku ke Denpasar, kota besar dimana aku harus berusaha lebih keras lagi kalau memang ingin bertahan hidup. Saat sulitpun aku jalani dengan senyum dan lagi-lagi Tuhan mengulurkan tanganNYA, memberiku hadiah sebuah beasiswa belajar satu tahun di Singapore. Terjadi hanya 2 minggu aku melanjutkan pendidikan D2 di Denpasar. Yang melamar beasiswa itu ratusan namun aku beruntung menjadi salah satu dari 3 kandidat yang akan dikirim belajar dan juga bekerja selama 1 tahun. Biasanya pelajar yang memiliki uang lebih punya kesempatan untuk training selama 6 bulan di luar negeri. Tapi aku punya kesempatan lebih…belajar dan bekerja selama 1 tahun tanpa mengeluarkan uang extra, hanya perlu biaya untuk passpor. Aku ingat ketika ibu mengantarkan aku di terminal bus menuju ke Jakarta…

“Ingatlah bahwa kamu dari keluarga miskin. Lakukan kewajibanmu tanpa mengeluh, buktikan bahwa kemiskinan bukan halangan untuk menjadi yang terbaik. Jangan pernah lupa akan asalmu dengan begitu kamu akan selalu menghargai sekecil apapun yang kamu punya dalam hidupmu. Jangan pernah lupa bersyukur pada Hyang Widhi (Tuhan) karena padaNYA kita kembali dan mempertanggungjawabkan semuanya. Jadikan hukum karmaphala sebagai patokanmu dalam bertindak. Ibu sayang kamu”.

Pesan mulia itu terpatri dalam hingga kini dan akan aku teruskan kepada anak-anakku kelak. Karena berkat pesan itu aku bisa seperti sekarang….belum sempurna namun selalu punya niat untuk belajar mengasah kemampuan diri. Nasehat itu pula yang selalu memberi aku kekuatan untuk berdiri tegak di batu karang dalam badai sekalipun. Sebuah pesan yang tak akan pernah terhapus selama nafas ini ada padaku.

Gadis kecil membawa ingatanku kembali ke saat ini….kulihat di sekelilingku hijau dan hijau alam yang bergerak seolah memberiku semangat dan kicau burung bernyanyi untukku. matahari semakin tinggi dan saatnya untuk pulang bertemu dengan pangeranku yang dikirim Tuhan untuk mengajari aku lebih banyak tentang hidup kala aku jauh dari orang tua. Aku kembali kumpulkan semua asa dan pikir…juga si gadis kecil. Waktu untuk terbang dan bermain usai, kini hanya ada pengendalian untuk mencapai tugas hari ini. Sambil melangkahkan kaki pulang ke tempat yang aku sebut istanaku…seulas senyum tersungging dan bibirpun kembali mengucap…

“Alam…sampai jumpa esok. Terima kasih sudah menemaniku dan memjadikan hariku makin berwarna. Tuhan…terima kasih sudah mengijinkan gadis kecil dalam diriku membawaku ke satu masa yang semakin membuatku mengerti arti di balik setiap ujian dan cobaanMU. Terima kasih atas semua kesempatan ini…terima kasih”.

Merangkai hari dengan sarapan bersama hubby tersayang…ada banyak tugas yang harus terselesaikan.

Satu cerita telah terungkap…..dan belum usai….masih banyak buku-buku yang mesti diketik ulang dari sebuah tempat yang ada dalam jiwa…

Terima kasih buat yang sudah menyempatkan membaca salah satu kisah kecil dalam hidupku, semoga kini teman semakin mengerti aku…seorang Deni dengan lakon sebagai Prajurit Kecil.



Setelah 56 Hari

Hari ini sedikit spesial buat seorang Deni. setelah berjuang sebanyak 56 hari dan hanya belajar dan bertemu guru selama 140 jam….hasilnya memuaskan, setidaknya untuk kali ini. Minggu lalu tepatnya tanggal 4 Juni, aku mengikuti ujian kenaikan tingkat D dari tingkat C-beginner untuk bahasa Swedia. Sedikit kawatir karena sebenarnya aku harus mengikuti ujian yang sama pada bulan September mendatang, tapi dengan kerja keras akhirnya bisa meyakinkan guru untuk diijinkan mengikuti ujian bulan Juni.

“Nothing to lose” dalam pikirku saat itu.

Karena memang jatahku untuk belajar bahasa Swedia tingkat C-beginner adalah 400 jam. Tapi sekali lagi tidak ada salahnya mencoba mengukur kemampuan sejauh mana aku menyerap pelajaran selama ini. Yeah…ada rasa percaya diri walaupun sedikit. Bukannya tidak siap, tapi 2 minggu sebelumnya aku sibuk dan bolos sekolah hampir 2 minggu penuh hehhehe *pergi ke Riga dalam hal promosi kebudayaan dan ke Holland buat ketemu saudara-saudarakuw tercinta*, makanya ada sedikit tanya dalam diri,

“Apakah aku benar-benar siap untuk mengambil ujian?”

Namun perlahan-lahan keyakinan diri tumbuh dan ujianpun dijalani. Dengan perhitungan kalau tidak lulus aku masih punya sisa waktu 260 jam untuk melanjutkan belajar di tingkat C-beginner.
Dan hasilnya hari ini…..begini ceritanya!!! *untuk lebih membuat tulisan ini sedikit menarik kekekkekke*

Masuk sekolah jam 1 siang dan Bengt *Guru pengganti karena Kersti lagi liburan* menyuruh kita untuk masuk ke lab komputer. Kita disuruh mengerjakan latihan di komputer selama Bengt memanggil satu persatu murid yang ikut ujian kenaikan tingkat minggu lalu. Waktu serasa lambat sekali berjalan. Yang pertama dipanggil adalah Alistair, temen dari UK. Bengt memberi tahu hasilnya di ruangan yang lain tapi masih satu koridor dengan lab komputer. Alistair kembali dengan kertas berisi nilai yang menunjukkan kelulusan dengan perdikat *GODKÄNT* yang artinya *BAGUS*. Setelah itu satu persatu dari Drago, Remi dan Sevinj….dan semuanya kembali dengan kelulusan dengan predikat yang sama dengan Alistair. Terus terang aku ketar ketir juga…..bagaimana tidak, melihat wajah-wajah gembira mereka membuat aku tambah gugup dan kosentrasi buyar.
Bengt kembali dan sambil menatap ke mataku, beliau menyebut namaku…

“Deni, följa mig!” yang artinya *Deni, ikuti saya!*

Waduuuh yang namanya detak jantung semakin kencang saja, dan ruangan yang hanya berjarak 50 meter serasa seperti berkilo-kilo. Seingatku aku belum pernah segugup ini, bahkan menunggu hasil EBTANAS SMA aja santai banget. Sambil jalan, dalam hati doa Bapa Kami. Begitu kaki menginjak ruangan Bengt, ‘Om Namo Sivaya’ terucap 3 kali *Kebiasaan ini ditanamkan sejak kecil oleh Kakiang tercinta waktu beliau masih hidup, untuk ketenangan dan keselamatan*.

Bengt menyuruh aku duduk dan mengambil kertas putih hasil ujianku. Beliau jelaskan satu persatu nilai yang ada dan dimana letak kelemahan yang harus diperbaiki, sampailah ke hasil akhir….aku lihat tertulis *VG*. Hmmm…dalam hati aku bertanya-tanya, apa artinya VG karena yang aku lihat di kertas teman-teman yang sudah lulus hanya tertulis G *GODKÄNT*. Waduuuhhhh jangan-jangan tidak lulus…..alamaaaaakk!!! Tambah dech jantung ini berdebar kencang, sampe aku beranikan diri tanya…

“Ursäkta Bengt, vad betyder VG?” yang artinya *Bengt, apa artinya VG?*

Yeee, ini si Bengt malah ketawa *lucu kali ngelihat mukaku yang pucet* hehehhe….akhirnya dia menjelaskan seperti ini *langsung di translate ke Indonesia aja :)*

“Deni, VG itu artinya VÄL GODKÄNT sama dengan *VERY GOOD*. Mukamu kelihatan sangat kawatir, semestinya kamu harusnya senyum dan seneng karena VG itu lebih baik dari G, dan dari 75 murid yang ikut ujian sangat sedikit yang mendapatkan VG, bahkan beberapa murid di kelasku tidak lulus ujian kali ini *Bengt mengajar di C-advance*. Jadi aku ucapkan selamat, sudah lulus dengan predikat VG”.

Wuuuuuuuihhhh….serasa dapet undian dech!!! hehheheh….maunya sich langsung jejingkrakan, tapi nich otak masih mengingatkan kalau ada si Bengt di ruangan hehehhe. Begitu Bengt mempersilakan untuk balik ke lab komputer, begitu kaki keluar dari ruangan langsung jejingkrakan kayak orang gila di koridor hehehheh.

Telepon Älskling, Mama yang aku bisa denger dari suara mereka sangat senang dan berkali-kali mengucapkan selamat dan ntar malem mau telepon Papa. Besok rencananya mau telepon ke Bali karena kan sekarang udah malem. Legaaaaaaa banget! berarti ga percuma belajar keras, buktinya hanya dengan 140 jam dari jatah 400 jam bisa lulus dengan nilai VG. Hmmm….janji sama diri sendiri bakal belajar lebih keras lagi untuk memenuhi target lulus ujian nasional secepatnya, amien.

Terus….jalan-jalan ke kota. Padahal udara dingin dan kebetulan aku ga bawa jaket. Tapi saking senengnya, dibela-bela’in dengan celana 3/4 dan baju kaos lengan pendek menembus dinginnya Stockholm hari ini. Dapet hadiah dari Älskling, hubby tersayang…beli apa aja. Dan aku memilih untuk beli buku melengkapi koleksi karya Paulo Coelho. Dan ternyata di Akademik Bokhandeln, aku dapatkan 3 buku Paulo Coelho yang langsung saja aku sambar dan lengkap sudah kebahagiaanku kali ini, lulus ujian dengan nilai VG dan koleksi Paulo Coelho punyaku lengkap kap kap. I can’t ask for more :) hehhehehhe

Sampe di rumah langsung menyalakan lilin di Lord Corner, mengucap syukur yang tak terhingga betapa beruntungnya aku menjadi hambaNYA yang dilimpahi sayang yang tak habis-habisnya.

“Tuhan…Bapaku, terima kasih. Telah memberiku kesempatan memberikan yang terbaik dari diriku untuk orang-orang yang menyayangi dan aku sayangi dan menjadi alasan mereka untuk tersenyum dan tertawa. Terima kasih atas setiap detik yang aku punya untuk menjalankan tugasku di dunia, mencoba dan berusaha berbuat yang terbaik untuk semua orang. Terima kasih karena telah memberikanku segala fasilitas untuk memberikan kebanggaan bagi semua orang yang mengenalku, terutama orang-orang yang menjadi bagian dari lakonku sebagai seorang prajurit kecil. Terima kasih, telah ijinkan aku untuk terus belajar dalam segala tugas, cobaan, ujian dan tempaan dariMU, untuk menjadi seorang Deni yang lebih baik lagi. Sekali lagi puji syukur dan terima kasih aku haturkan kehadiratMU. Amien”.

Dari seorang prajurit kecil yang ingin berbagi bahagia :)

Ini Aku, Bapa!

Bapa, kala malamMu menyapa mata si gadis kecil belum mau terpejam. Ada banyak tanya yang dia ingin ungkapkan dan cari jawabnya. Bapa…malamMu kian larut saja namun tiada niat sedikitpun untuk mengatupkan mata untuk sejenak beristirahat.

Terima kasih hari ini engkau telah berikan gadis kecil banyak senyum dan kebahagiaan, namun selalu saja ada ragu dalam diri yang tak bisa dia ungkapkan dan tak terkatakan. Air mata pun tak mau kunjungi dia lagi, entahlah apakah hanya kesendirian yang mau hampiri si gadis kecil di saat malamMu datang.

Ingin rasanya dia ingat semua hal yang indah, namun dia tak bisa. gadis kecil masih sebagai putriMu yang dahulu…yang selalu saja mencoba untuk menutupi semua sedih dari semua orang yang ada di sekitarnya. Menurutnya sedih tak harus dibagi.

Bapa…betapa dia ingin mendapat penjelasan dari semua sikap yang ada. Bukan sebuah tuntutan namun lebih kepada sebuah nyala liling yang dapat memberikan petunjuk kemana dia harus melangkahkan kakinya. Terkadang dia hanyut terbawa gelombang sebelum dihempaskan dengan kerasnya….tidak, itu tidak menyelesaikan masalahnya, hanya dia ingin membagi dirinya menjadi pasukan yang siap menerjang dan memenangkan pertempuran. Namun…seakan dia kini lemah tak berdaya.

Kala tangan mulai mengetik namun asa tak lagi bersemayam dalam tubuh, entah apa yang dia dapat. Hanya kosong dan bibir mungil yang mengucap lirih memohon pertolongan dan seakan tak mampu berteriak untuk ingatkan pada dunia bahwa dia hanyalah seorang gadis kecil…hanya seorang gadis kecil!

Bapa…seolah mata ingin terpejam namun pikir tetap menguasai semua ruang yang ada. Ijinkan dia Bapa…setidaknya sedikit saja…sebentar…saja…

Sama sekali tidak pernah menyangka bahwa seorang teman baik dapat memfitnah temannya. Ada rasa kaget, amarah dan keterkejutan yang sangat ketika seorang Deni menerima sebuah fitnah yang jelas-jelas tidak ada ujung pangkal dan alasan yang jelas. Benar- benar tidak masuk akal….bagaimana bisa seorang teman mengatakan benci kepada seorang Deni dengan alasan Deni selalu iri kepada harta benda, gaya hidup dan semua kekayaan yang dimilikinya. Lucunya…..ini adalah kali ke-3 kita ketemu, dan selama pertemuan yang terdahulu tidak ada satupun pembahasan yang pernah terlontar dari mulut seorang Deni tentang harta benda. Yang ada hanyalah gurauan dan masa lalu yang seakan jadi topik yang tidak ada habis-habisnya. Yang membuat semua makin tidak jelas adalah setelah menyebar fitnah tiba-tiba saja dia mengirim sebuah pesan yang mengatakan kalau sebenarnya dia sayang pada Deni, seseorang yang jelas-jelas dibencinya beberapa hari yang lalu. Hati mulai bertanya-tanya…apa maksud orang ini?? Karena sebagai orang Indonesia dan Bali khususnya…respek kepada orang yang lebih tua itu merupakan sebuah kewajiban yang mendarah daging, namun kenyataannya respek, niat baik dan hormat dibalas dengan alasan yang mengada-ada. Hal ini yang tidak bisa diterima akal sehat. Seorang Deni hanya bisa mengurut dada dan bersyukur kepada Tuhan ditunjukkan jalan untuk mengetahui bahwa dia tidak bisa Deni jadikan seorang teman.

Suatu pembelajaran dalam hidup lagi….terkadang niat baik diterima salah walaupun oleh seorang teman. Kadang seorang teman bisa berubah menjadi seorang musuh. Namun Deni bersyukur hal ini terjadi jadi bisa melihat siapa-siapa saja yang pantas disebut teman. Tidak ada penyesalan…tidak ada amarah lagi….hanya ada senyum dan ucapan terima kasih, betapa kita diselamatkan dari amarah-amarah selanjutnya.

Banyak hal yang terjadi beberapa minggu terakhir ini yang membuat seorang Deni sedikit merasa sudah saatnya untuk diam dan merenungkan apa saja langkah yang sudah tertempuh dan yang akan tertempuh. Seperti selalu ada dalam keyakinan…ada bahagia dibalik sebuah ujian.

Deni kembali belajar untuk lebih berhati-hati dalam bersikap dan mengontrol amarah yang ada. Terkadang ada tanya yang melintas…

Apakah diam selalu jadi jawaban yang terbaik????

Prajurit yang masih mencari jawaban!

Tuhan memberi deni kesempatan lain untuk mengenal negara tetangga yang bernama Latvia. Kali ini dalam rangka menunaikan tugas untuk memperkenalkan kesenian Indonesia khususnya Tari Bali. Berangkat bersama rombongan dari kedutaan Indonesia dan anggota gamelan Jawa di Stockholm.

Sebenarnya ada banyak pembelajaran yang dipetikk dari perjalanan ke ibu kota negara Latvia ini, antara lain adalah lebih mengenal karakter orang Indonesia itu sendiri. Banyak yang Deni buktikan dan lihat dengan kepala sendiri yang akhirnya Deni petik sebagai pelajaran yang nantinya dapat menolong di masa depan. Mengenal lebih jauh bagaimana hidup ini ternyata benar-benar seperti sebuah sandiwara yang kita hanya lakon, namun bukan lakon yang pasrah….lakon yang berhak menentukan  bagaimana dan memilih improvisasi yang kita mau dalam menjalani hidup ini.

Tampilan kesenian itu sendiri mendapat tanggapan yang meriah dari masyarakat Latvia. Senang rasanya melihat mereka begitu tertarik dan berusaha mengerti apa yang Deni tarikan pada saat itu yaitu Tari Cendrawasih dan Margapati. Banyak sekali pertanyaan yang terlontar mengenai kebudayaan Bali dan banyak keinginan-keinginan terlontar untuk mengunjungi pulau mungil yang dulu sempat terkubur oleh beberapa tragedi di tanah kelahiran tercinta itu.

Ada beberapa foto yang sempat diambil dan melihat kembali foto-foto itu seolah memutar kembali kenangan di sebuah negara kecil bernama Latvia.

Berharap bisa kembali lagi ke sana bersama hubby tersayang….suatu saat!!! Kala Tuhan memberi ijin, amien.

Masih Berjuang

Hari ini banyak yang berkeliaran di benakku. Terkadang ada yang singgah hanya sebentar dan kembali lagi, ada pula yang singgah lumayan lama dan tidak kembali.

Air mata yang dulu jadi temanku sekarang amat sangat jarang menyinggahiku. Terkadang aku rindu padanya….ingin bertutur lagi seperti dulu, pada alirannya di pipiku. Apakah ini berarti aku semakin kuat sebagai manuasia? Entahlah, banyak yang aku rindukan dari masa lalu dan aku masih ragu apakah aku yang sekarang lebih kuat dari aku yang dulu. Hendak hati mencari pembuktian itu namun aku harus duduk bersama gadis kecil dalam diriku dan bicara padanya, karena aku yakin dia tahu segalanya.

Pagi ini seperti biasa…..menjalankan tugas sebagai istri. Menyiapkan makan pagi dan mencuci pakaian. Tidak aku sangka banyak juga orang2 yang bangun pagi2 hanya untuk mendapat giliran untuk menggunakan mesin cuci. Tapi aku sangat bersyukur karena aku hanya memerlukan waktu kurang dari 2 jam untuk menyelesaikan semua cucian dimana yang lainnya masih berkutat dengan mesin cuci dan mesin pengering.

Ketika aku buka pintu yang menuju balkoni…aku trenyuh, betapa lama aku tidak menyentuh balkoni ini untuk jangka waktu yang cukup lama. Kuambil sapu dan mulai membersihkan balkoni dan sekarang tampak lebih mengundang untuk menikmati matahari yang ada dan kicauan burung. Melihat hijaunya daun membuatku damai dan bersyukur telah diberikan waktu untuk kembali menikmati dan bermain dengan alam.

Sudah lama aku tidak menulis di sini membuat aku rindu….sebuah kerinduan akan menumpahkan hariku di sebuah buku online yang sudah aku niati untuk memulai.

Ada beberapa cerita yang ingin aku tumpahkan…..pada lain lembar….lain halaman….

« Newer Posts - Older Posts »

FireStats icon Powered by FireStats