Berjalan di bawah sinar matahari dan menyapa alam di pagi hari ini terasa nikmat sekali. Menghirup udara dan merasakannya menjalari setiap nadi di dalam tubuh membuat senyumpun terbentuk dan syukur terucap,
“Tuhan, terima kasih…sudah memberikan aku satu hari lagi untuk mengagumi betapa megah alam ciptaanMU dan betapa banyak pelajaran yang aku dapatkan dalam hidup. Terima kasih telah mengijinkan bibir ini mengucap syukur bersama mentari”.
Ada banyak tujuan yang bisa aku jadikan pilihan, namun kaki mengajak aku kembali ke hutan kecil dekat rumah yang aku tinggalkan beberapa bulan yang lalu. Melihat betapa hijau dan lebatnya hutan kecil ini sekali lagi bibir tersenyum pelan dan dengan lirih aku katakan pada hutan kecil temanku, ketika langkah kaki pertama kali terpijak di pinggir pohon pertama,
“Aku kembali…kembali untuk menyapamu dan sekedar menghabiskan waktu untuk lebih mensyukuri apa yang aku punya. Aku harap kamu dan segala yang ada padamu menjaga aku dan membantuku memberi warna dalam hariku hingga nantinya bisa aku rangkai jadi cerita indah”.
Kali ini aku ambil arah yang berlawanan dengan arah yang biasanya aku tapaki. Ada sesuatu yang berbeda namun aku yakin akan berakhir di tempat yang akan aku kenali. Aku biarkan pikirku melayang kemanapun dia mau, aku tak akan membatasi dan menyuruhnya untuk berhenti. Gadis kecil dalam diripun bersiap-siap untuk terbang dan sebelum dia kepakkan sayapnya…dia tersenyum….satu senyum indah mengawali pagiku. Kuberikan senyum terbaikku padanya seperti pada Tuhanku.
Kaki perlahan terhenti ketika kulihat memori masa lalu berlarian di benakku, tapi aku sudah berjanji tidak akan menyuruhnya berhenti…karena aku tahu ini yang gadis kecil mau untuk menemani hariku bersama alam. Sempat terpikir mengapa tiba-tiba masa lalu yang dipilih gadis kecil buatku, apakah karena aku tonton Andrea Hirata dan cerita laskar pelanginya? Mungkin saja….dimulai dengan ingatan tentang kemarin….
Aku pernah dengar dari seorang teman tentang buku berjudul Laskar Pelangi, tapi belum tergerak untuk mencari tahu sampai Mbok sari, salah satu kakak di Jerman memasang satu buah cuplikan percakapan sang penulis buku. Sebelumnya mbok Sari mengingatkan untuk mempersiapkan tissue sebelum menonton kisah Andrea Hirata selengkapnya dari bagian 1 sampe ke 6 yang aku putuskan untuk aku tonton di you tube. Penasaran tapi malas mengambil tissue yang ada di kamar mandi….
“Kan ada baju yang bisa dipake” kataku dengan bandel dalam hati.
Episode pertama,…kedua…ketiga…keempat…mulai aku rasakan keharuan penonton yang disorot lampu kamera, dan ada beberapa bahkan mulai berkaca-kaca. Memasuki bagian ke 5 mulailah terlihat beberapa penonton mengusap air mata terharu ketika mendengarkan dan melihat di mata seorang Andrea Hirata juga terlihat aliran sungai kecil.
“Mungkin ini yang dimaksud mbok Sari dengan tissue yang harus disiapkan” kataku perlahan. Namun mata ini kering, hanya satu kalimat terluncur begitu saja mewakili semua yang aku rasakan ketika menonton show ini…
“I have been there” yes…. “I have been there”
Tidak dalam kontent yang sama, tidak pula dalam situasi yang sama. Namun perjuanganku untuk dapat mengecap dunia pendidikan hampir sama…hanya jaman yang membedakan kami. Bukan berarti aku ingin menyamakan diriku dengan seorang penulis handal, tidak….tidak ada niat untuk itu. Hanya dengan melihat dan mendengar saja sudah membuat aku melihat kembali masa-masa sulit masa kecilku, betapa pendidikan bagi kami, anak-anak dari keluarga yang tidak mampu amat sangat berarti. Apapun kami lakukan hanya untuk dapat duduk di salah satu bangku sekolah.
Gadis kecil membawaku melihat kembali….
Kakiku menari indah ketika ibu memasangkan sepatu merk Eagle di bulan Juli 1988. Aku masih ingat betapa hatiku sangat senang mendapat oleh-oleh sepatu baru atas budi baik kakek. Aku coba berjalan dengan sepatu baruku….
“Ibu, sepatu ini kebesaran”
“Tidak apa-apa, lebih baik kebesaran daripada kekecilan. Nanti kan kakimu bertambah besar, jadi sepatu itu bisa kamu gunakan lebih lama”
Ya….apa yang ibu bilang memang benar. Sepatu itu memang kebesaran…dulu aku hanya mengerti dan menerima dengan begitu saja bersama luapan kegembiraan penjelasan ibu yang singkat. Namun…menjelang masuk ke kelas 2 SMA…aku baru benar-benar menyadari mengapa ibu membelikan aku sepatu dengan ukuran lebih besar. Sepatu Eagle berwarna hitam benar-benar menjadi satu-satunya sepatu yang aku miliki sejak kelas 4 SD. Jika sepatu itu basah karena hujan, aku harus cepat-cepat menggantungnya agar bisa keesokan harinya aku pakai lagi. Jikapun belum kering, aku memakainya tanpa keluhan karena aku mengerti betapa ibu dan ajik berusaha keras menghidupi kami dan tidak adil rasanya hanya gara-gara sepatu basah kami harus menambah beban mereka.
Tuhan sangat baik pada kami…aku diberikan ketabahan berlebih hingga bisa berkosentrasi dan selalu menjadi yang terbaik di kelas dan mendapatkan bebas biaya sekolah setiap tahunnya dari kelas 1 SD hingga aku menamatkan SMA. Aku bersekolah dari TK sampai SMA di sekolah swasta yang dulunya bernama Lab UNUD Singaraja. Mengapa aku memilih sekolah swasta…karena mereka memberikan bebas uang sekolah ketika aku menginjak kelas 1 SD karena prestasiku di TK. Namun jika aku ingin tetap mendapatkan bebas biaya sekolah, aku harus selalu jadi yang terbaik karena hanya juara 1 di tiap kelas yang akan mendapatkan bebas uang sekolah selama setahun. Tuhan Maha Penyayang….tak pernah aku lewatkan satu tahunpun tanpa beasiswa. Entahlah….jika tanpa fasilitas itu, mungkin aku berakhir sebelum bisa menamatkan sekolah.
Aku berjualan permen coklat setiap hari di sekolah membantu tetangga yang meiliki toko di pasar, dengan tujuan untuk mendapat uang bekal. Jika aku berhasil menjual satu kotak yang berisi 20 permen coklat dengan harga Rp.25 per biji, aku mendapat imbalan Rp.50 rupiah yang biasanya aku tabung setengah dan setengahnya lagi biasanya aku belikan makanan kecil. Aku berjualan hingga menginjak kelas 6 SD. Memasuki SMP, untuk menambah uang bekal, aku mengirim puisi ke Bali post dan jika puisiku termuat aku mendapat imbalan lumayan. Ini berlanjut hingga aku menamatkan SMA di Singaraja.
Karena kesulitan uang juga…aku putus kuliah. Aku memutuskan bekerja sebagai pelayan restaurant di Lovina, hanya untuk mengumpulkan uang untuk melanjutkan pendidikan walaupun hanya D1 perhotelan di Singaraja. Ketika uang hasil kerja terkumpul dan bisa menamatkan D1 dengan nilai terbaik, niatku untuk melanjutkan sekolah D2 di bidang yang sama membawaku ke Denpasar, kota besar dimana aku harus berusaha lebih keras lagi kalau memang ingin bertahan hidup. Saat sulitpun aku jalani dengan senyum dan lagi-lagi Tuhan mengulurkan tanganNYA, memberiku hadiah sebuah beasiswa belajar satu tahun di Singapore. Terjadi hanya 2 minggu aku melanjutkan pendidikan D2 di Denpasar. Yang melamar beasiswa itu ratusan namun aku beruntung menjadi salah satu dari 3 kandidat yang akan dikirim belajar dan juga bekerja selama 1 tahun. Biasanya pelajar yang memiliki uang lebih punya kesempatan untuk training selama 6 bulan di luar negeri. Tapi aku punya kesempatan lebih…belajar dan bekerja selama 1 tahun tanpa mengeluarkan uang extra, hanya perlu biaya untuk passpor. Aku ingat ketika ibu mengantarkan aku di terminal bus menuju ke Jakarta…
“Ingatlah bahwa kamu dari keluarga miskin. Lakukan kewajibanmu tanpa mengeluh, buktikan bahwa kemiskinan bukan halangan untuk menjadi yang terbaik. Jangan pernah lupa akan asalmu dengan begitu kamu akan selalu menghargai sekecil apapun yang kamu punya dalam hidupmu. Jangan pernah lupa bersyukur pada Hyang Widhi (Tuhan) karena padaNYA kita kembali dan mempertanggungjawabkan semuanya. Jadikan hukum karmaphala sebagai patokanmu dalam bertindak. Ibu sayang kamu”.
Pesan mulia itu terpatri dalam hingga kini dan akan aku teruskan kepada anak-anakku kelak. Karena berkat pesan itu aku bisa seperti sekarang….belum sempurna namun selalu punya niat untuk belajar mengasah kemampuan diri. Nasehat itu pula yang selalu memberi aku kekuatan untuk berdiri tegak di batu karang dalam badai sekalipun. Sebuah pesan yang tak akan pernah terhapus selama nafas ini ada padaku.
Gadis kecil membawa ingatanku kembali ke saat ini….kulihat di sekelilingku hijau dan hijau alam yang bergerak seolah memberiku semangat dan kicau burung bernyanyi untukku. matahari semakin tinggi dan saatnya untuk pulang bertemu dengan pangeranku yang dikirim Tuhan untuk mengajari aku lebih banyak tentang hidup kala aku jauh dari orang tua. Aku kembali kumpulkan semua asa dan pikir…juga si gadis kecil. Waktu untuk terbang dan bermain usai, kini hanya ada pengendalian untuk mencapai tugas hari ini. Sambil melangkahkan kaki pulang ke tempat yang aku sebut istanaku…seulas senyum tersungging dan bibirpun kembali mengucap…
“Alam…sampai jumpa esok. Terima kasih sudah menemaniku dan memjadikan hariku makin berwarna. Tuhan…terima kasih sudah mengijinkan gadis kecil dalam diriku membawaku ke satu masa yang semakin membuatku mengerti arti di balik setiap ujian dan cobaanMU. Terima kasih atas semua kesempatan ini…terima kasih”.
Merangkai hari dengan sarapan bersama hubby tersayang…ada banyak tugas yang harus terselesaikan.
Satu cerita telah terungkap…..dan belum usai….masih banyak buku-buku yang mesti diketik ulang dari sebuah tempat yang ada dalam jiwa…
Terima kasih buat yang sudah menyempatkan membaca salah satu kisah kecil dalam hidupku, semoga kini teman semakin mengerti aku…seorang Deni dengan lakon sebagai Prajurit Kecil.