“Di, aku bingung”.
“Kenapa?”
“Sepertinya aku sangat sulit diterima oleh orang lain. Sampe saat ini aku belum juga menemukan seorang teman yang benar-benar teman. Mereka selalu menjauh jika mereka tahu siapa aku. Hari ini aku alami lagi. Sedih…tapi aku tahu ini salah satu alur yang mesti aku jalani”.
“Apa maksudmu setelah mereka tahu siapa kamu yang sebenarnya?”
“Begini ceritanya, tadi pagi teman-teman di tempat kerja mengajakku untuk pergi ke disko. Aku coba menjelaskan kalau aku mungkin akan sedikit merepotkan karena ini pertama kali aku pergi ke tempat seperti itu. Tapi mereka bilang aku akan baik-baik saja dan mereka fine with my explanation. Terus begitu keluar dari locker…mereka sepertinya aneh melihat bajuku yang tidak secantik mereka. Dan mereka agak sedikit protes melihat mukaku yang tanpa make up. Aku memang selalu menghapus make up setelah selesai bekerja. Hanya tidak nyaman saja memakai make up. Aku hanya menurut saja ketika mereka mendandani aku walaupun dalam hati rasanya ingin menolak!”
“Terus, apa yang terjadi?”
“Kami pergi dan begitu tiba di sana, mulailah apa yang aku takutkan terjadi. Mereka memesan minuman beralkohol dan kamu tahu kalau aku tidak minum sama sekali. Aku hanya memesan soft drink dan dari sini mereka sepertinya mulai merasa aneh. Mungkin dalam pikir mereka, gadis umur 23 tidak minum alkohol sama sekali? Mereka pergi ke lantai dansa dan hanya berbasa basi mengajakku, daaann lagi-lagi aku tolak. Dari situ aku memutuskan untuk pulang…here i am, at home with you Di!”
“Terus, apa yang membuatmu sedih now? Tell me!”
“Di, apakah salah jika aku tidak memakai make up dalam keseharianku?”
“Tidak, tidak ada yang salah. Kalau memakai make up di rumah membuatmu tidak nyaman, mengapa harus memakainya. Kamu tidak harus menyenangkan orang lain dengan membuat dirimu sendiri tidak nyaman”.
“Di, apakah salah jika sampai umurku 23 aku belum pernah meminum alkohol seperti mereka?”
“Apakah meminum alkohol adalah sebuah ukuran dalam pergaulan? Jawabannya tidak! Jika sampai saat ini kamu belum pernah meminum alkohol apakah itu berarti kamu kurang pergaulan? Jawabannya tetap tidak, dan kamu punya alasan tersendiri mengapa kamu tidak meminum alkohol sampai saat ini. Sesuatu itu terjadi pada waktu yang tepat, mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untukmu meminum alkohol. Kapan waktu yang tepat? Aku sendiri tidak tahu tapi jangan pernah merasa minder gara-gara kamu belon pernah mencoba alkohol. Jangan pernah paksa dirimu untuk melakukan hal yang belum mau kamu lakukan, karena sesuatu yang berawal dari paksaan tidak akan berakhir dengan baik, hanya kekecewaan yang ada”.
“Di, apakah aku harus merubah penampilanku agar lebih diterima di masyarakat?”
“Kalau menurutku, iya….kamu harus belajar sedikit bagaimana menghargai dirimu dengan memakai pakaian yang bisa membuat pori-porimu nyaman dan tersenyum. Bukan untuk menyenangkan orang lain, tapi untuk menunjukkan rasa cintamu pada diri sendiri. Tidakkah kamu tahu, kalau jiwamu juga ingin tampil cantik dan indah? Berilah sedikit hadiah pada jiwa dan ragamu yang sudah kamu gunakan untuk melayanimu, melakukan yang terbaik dari dirimu untuk keluarga dan orang-orang di sekitarmu”.
“Tapi baju-baju itu mahal Di! Lebih baik uangnya aku gunakan untuk membantu ibu dan ajik”.
“Percayalah, mereka juga ingin kamu menyenangkan diri sendiri. Memberikan dirimu sebuah kesenangan bukan berarti kamu anak durhaka. Ajik dan ibumu tahu kalau kamu tidak akan pernah mengecewakan mereka hanya dengan membeli beberapa baju yang akan bisa membuat jiwa dan seluruh ruang di dalam tubuhmu tersenyum. Kamu masih satu dari anak-anak tersayang mereka. Tuhan memberimu rejeki lebih dan Tuhan tidak akan marah jika kamu gunakan sepuluh persennya untuk dirimu sendiri”.
“Di, apakah salah jika aku berbeda? Aku hanya merasa diskotek adalah bukan tempat yang membuatku nyaman. Kamu lebih tahu tentang aku Di, aku gadis desa. Tempatku bukan di sana tapi di rumah…aku rasa”.
“Manusia tidak ada yang sama. Bahkan orang kembarpun tidak sama. Apakah ada yang menyalahkan mereka karena berbeda? Tidak! Tidak ada seorangpun yang berhak menyalahkan kamu kalau kamu berbeda, karena Tuhan menciptakan manusia dalam perbedaan. Perbedaan itulah yang menyebabkan tiap manusia itu unik, dan keunikan itu membuat manusia menjadi seseorang yang special. Perbedaan pula yang mempertemukan manusia sebagai orang tua, saudara, teman, pacar dan masyarakat. Dengan perbedaan itu kamu bisa saling belajar, saling mengisi satu sama lain dan menjadikan hidup ini lebih indah. Hidup adalah sebuah tempat untuk belajar, jika Tuhan menciptakan semua manusia sama, maka manusia tidak akan pernah belajar. Cintailah dirimu karena kamu berbeda, karen berbeda itu unik dan unik itu indah”.
“Terima kasih Di, aku lebih mengerti tentang hidup sekarang. Aku sayang kamu Di, seperti aku sayang pada diriku sendiri. Aku tahu keluargaku akan selalu bangga karena aku berbeda. Terima kasih, Di!”
Singapore, satu hari di bulan Oktober 2000. Sebuah percakapanku dengan gadis kecil dalam diri yang aku panggil dengan nama Dionysus. Sebuah nama Yunani yang menjadi cikal bakal nama Denise…nama baptis yang dipilih hubby-ku tersayang buatku, dan namaku adalah…Deni!
Satu lagi kepingan kecil hidup seorang prajurit kecil.
Posted in Hariku | Tagged Hariku | No Comments »
hehhehehhe